Inilah anakku
Cerita tentang perasaan seorang anak yang membanggakan orang tuanya
Terima kasih, nak ....
Ayah sayang kamu
(Sedikit berbagi tulisanku, hehe 💕)
Oleh : Rahma Aulia Risnarso
Amaa kecil pernah bertanya pada dirinya sendiri, "Kenapa aku harus memakai kerudung di saat teman-temanku yg lain bebas menunjukkan rambutnya? Kenapa aku dilarang berpacaran bahkan dekat dengan seorang laki-laki di saat teman2ku bahagia dengan pacarnya? Kenapa aku dilarang melakukan banyak hal untuk artis yang aku kagumi? Kenapa aku tak bisa sebebas anak remaja lain?"
Malu rasanya mengingat kembali masa itu karena justru memang itulah hal terbaik yang dilakukan orang tua untuk menjaga putrinya.
Meski dulu aku nakal, arogan, bodoh, sering membangkang dan menyakiti hati kedua orang tuaku, mereka tetap ingin menjagaku.
Tak peduli jika aku tidak nyaman dengan hal itu, yang mereka inginkan yang terpenting adalah keselamatan anak-anaknya.
Ya, maka nikmat Tuhan manakah yang kau dustakan? (QS. Ar-Rohman)
Teringat sebuah cerpen yang berjudul "Robohnya Surau Kami" karya AA Navis yang kebetulan menjadi bahan naskah drama yang kupentaskan di perkuliahan. Cerpen tersebut bercerita tentang seorang kakek yang sibuk mengurusi ibadahnya sendiri. Kemudian tokoh Ajo Sidi bercerita kepada sang kakek tentang seseorang yang bernama Haji Saleh yang juga menghabiskan waktunya hanya untuk beribadah dan memikirkan akhiratnya saja tanpa memikirkan lingkungannya. Keluarganya tak ia ajak beribadah sehingga keluarganya hidup sebagai orang yang merugi. Haji Saleh sangat percaya diri karena di dunia ia beribadah dengan giat. Namun justru karena keegoisannya yang membiarkan keluarganya berada dalam kedosaan, ia pun dimasukan ke neraka. Sang kakek yg mendengar cerita itu marah dan ia merasa Ajo Sidi telah menghinanya bukan menasihatinya. Akhirnya dengan kemarahannya sang kakek bunuh diri dengan menggorok lehernya menggunakan pisau.
Cerita tersebut memiliki pesan yang begitu mendalam. Sebuah keluarga harusnya saling mengajak kepada kebaikan, artinya wajib hukumnya menjaga orang terdekat dalam kebenaran dan jalan yang lurus. Amanat lainnya yaitu kita harus bersyukur jika masih ada orang yang menasihati kita. Artinya Allah masih peduli pada kita dan tidak membiarkan kita masuk dalam golongan orang yang merugi.
Ada sebuah quote dari Duncan Sheik yang mengemukakan, "It’s inevitable your environment will influence what you do.” —
Tak terelakkan bahwa lingkunganmu akan mempengaruhi apa yang kamu lakukan.
Baiknya kita memperhatikan bagaimana keadaan lingkungan kita, terutama keluarga dan sahabat. Jika salah maka benarkan, jika benar maka jagalah agar tetap berada di jalan yang lurus 😊 semoga Allah mempertemukan kita kembali di Jannahnya.
Sukabumi, 27 Maret 2018
Komentar
Posting Komentar